Kehidupandi Kerajaan Galuh Kehidupan Politik kerajaan Galuh. Kehidupan politik di kerajaan ini tidak lepas dari berbagai perpecahan dan penyatuan kerajaan, yakni antara kerajaan sunda dan juga galuh. Setelah disatukan oleh Sanjaya, kerajaan tersebut pecah kembali di tahun 739 M menjadi kerajaan Galuh dan Sunda, dipecah untuk anak Panaraban.
KerajaanSunda Meliputi Sejarah, Kehidupan Politik, Kehidupan Kebudayaan, Raja - Raja dan Peninggalannya Secara Lengkap By Admin June 12, 2020 Post a Comment Di wilayah Jawa Barat muncul Kerajaan Sunda yang diduga merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanegara yang runtuh pada abad ke-7.
MengenalKerajaan Sunda lebih dalam. Setelah berkilas balik tentang berdirinya kerajaan di tanah Sunda, mari kita mengintip bagaimana kehidupan dalam berbagai aspek di Kerajaan Sunda. 1. Kehidupan politik dan militer. Pemerintahan era lampau tidak lepas dari kata kerajaan.
Kehidupanpolitik Kerajaan Sunda . 61 9. Kerajaan Bali Gambar 2.15 Peta wilayah Kerajaan Bali Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 12 a. Kehidupan politik Nama Bali sudah lama dikenal dalam beberapa sumber kuno. Dalam berita Cina abad ke-7 disebut adanya nama daerah yang bernama Dwa- pa-tan, yang terletak di
Halini ditegaskan dalam berita Portugis bahwa pada tahun 1512 dan 1521 datang utusan dari kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Ratu Samiam. Ratu Samiam dalam berita Portugis ini sama dengan Prabu Surawisesa dalam Carita Parahyangan. Prabu Surawisesa menjadi raja dan memerintah tahun 1521-1535. a. Kehidupan politik Kerajaan Sunda.
a Kehidupan Politik. Dalam waktu yang cukup lama tidak dapat diketahui perkembangan keadaan Kerajaan Sunda selanjutnya. Kerajaan Sunda baru muncul kembali pada abad ke-11 (1030) ketika di bawah pemerintahan Maharaja Sri Jayabhupati. Nama Maharaja Sri Jayabhupati terdapat pada Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di Pancalikan dan
Kerajaan Sunda Pajajaran merupakan kerajaan Hindu-Buddha yang terletak di Jawa Barat. Kerajaan Sunda Pajajaran berdiri pada sekitar abad ke-7 hingga abad ke-16 Masehi. Wilayah kerajaan Sunda Pajajaran meliputi wilayah barat pulau Jawa seperti Banten, Jakarta, Bandung, Sukabumi, Bogor.. Sumber sejarah yang mencatat keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran adalah Carita Parahyangan.
rSobtMi. - Kerajaan Sunda-Galuh atau Pajajaran merupakan penyatuan dua kerajaan yang pernah menancapkan kekuasaannya dari abad ke-8 hingga ke-16 Masehi. Sejarah berdirinya dua kerajaan di tanah Sunda Jawa Barat ini tidak terlepas dari naskah kuno Carita Parahiyangan yang ditulis abad ke-16 M. Dua kerajaan ini merupakan pecahan Kerajaan Tarumanegara. Ini merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang menguasai telatah Sunda pada abad ke-5 hingga runtuh pada abad ke-7. Tarumanegara adalah kerajaan yang menganut agama Hindu beraliran Tarumanegara tamat pada sekitar tahun 650 M lantaran serbuan dari Kerajaan Sriwijaya, muncul dua kerajaan baru di tanah Pasundan, yakni Kerajaan Sunda dan Kerajaan Parahiyangan menjelaskan mengenai Kerajaan Galuh dimulai sewaktu Rahiyangta ri Medangjati yang menjadi pemimpin selama 15 tahun. Kemudian, kekuasaan diwariskan kepada puteranya di Galuh yaitu Sang juga Sejarah Tarumanegara & Daftar Prasasti Peninggalannya Pesona Ratu Harisbaya Memicu Konflik Sumedang vs Cirebon Sejak Zaman Tarumanegara, Jakarta Sudah Langganan Banjir Sejarah dan Pusat Kerajaan Hasil penelitian bertajuk "Rekonstruksi Kerajaan Galuh Abad VIII-XV" karya Nina Herlina Lubis dan kawan-kawan yang terhimpun dalam Jurnal Paramita Volume 26, 2016 mengungkapkan bahwa pusat Kerajaan Sunda dan Galuh berada di lokasi yang Sunda berpusat di Pakuan Pajajaran Bogor sekarang, sedangkan Kerajaan Galuh berpusat di menjadi kerajaan yang berdaulat, Sunda dan Galuh berada di bawah taklukan Tarumanegara pada masa pemerintahan Maharaja Linggawarman 666-669 M.Setelah Maharaja Linggawarman wafat, tampuk kepemimpinan Kerajaan Tarumanegara diteruskan oleh menantunya yang kemudian bergelar Sri Maharaja Tarusbawa. Pada periode inilah terjadi pergolakan. Penguasa Galuh, Wretikandayun, memberontak dan melepaskan diri dari Tarumanegara. Tahun 612, Wretikandayun mendeklarasikan Kerajaan Galuh sebagai pemerintahan yang ini membuat Tarumanegara semakin melemah hingga akhirnya runtuh karena serangan dari Kerajaan Sriwijaya pada sekitar 650 Masehi. SriSri Maharaja Tarusbawa yang selamat kemudian mendirikan pemerintahan baru bernama Kerajaan Sunda di tepi hulu Sungai Cipakancilan yang termasuk wilayah Bogor sekarang. Baca juga Salakanagara, Kerajaan Sunda Tertua di Nusantara Sejarah Kerajaan Larantuka & Kaitannya dengan Majapahit Sejarah Singkat Majapahit, Pusat Kerajaan, & Silsilah Raja-Raja Perkembangan Kerajaan Sunda Galuh Tahun 732 M, sosok yang dikenal dengan nama Sanjaya berhasil menggabungkan Kerajaan Sunda dan Galuh setelah wafatnya Sri Maharaja Tarusbawa, demikian tulis Ayatrohaedi dalam Sundakala Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-Naskah "Panitia Wangsakerta" 2005.Sanjaya adalah cicit dari pendiri Kerajaan Galuh, Wretikandayun, yang juga suami dari putri Sri Maharaja Tarusbawa, pendiri Kerajaan Sunda. Sanjaya tampil sebagai pemersatu Sunda-Galuh setelah Sri Maharaja Tarusbawa meninggal itu, Sanjaya juga merupakan cucu dari Ratu Shima 674-695 M, pemimpin Kerajaan Kalingga yang berpusat di Jepara, Jawa bagian tengah. Maka, Sanjaya pun berhak memimpin Kalingga sepeninggal Ratu atau Prabu Harisdarma inilah yang nantinya mendirikan Kerajaan Mataram Kuno sekaligus sebagai pendiri Wangsa harus bertakhta di Kerajaan Kalingga, Sanjaya menyerahkan tampuk kekuasaan Sunda-Galuh kepada puteranya yang bernama Rakeyan Panaraban 732 -739 M. Baca juga Sejarah Samudera Pasai Pendiri, Masa Jaya, & Peninggalan Sejarah Kepemimpinan Ratu Shima di Kerajaan Kalingga Sejarah Kerajaan Jenggala Prasasti, Peninggalan, & Silsilah Raja Namun, di bawah pemerintahan Rakeyan Panaraban, Sunda-Galuh kembali terpecah. Pada 739 M, Panaraban membagi kekuasaan kepada kedua putranya, yaitu Sang Manarah yang berkuasa di Kerajaan Galuh dan Sang Bangga yang mendapatkan singgasana Kerajaan Sunda. Berabad-abad lamanya dua kerajaan bersaudara ini menjalani hidup masing-masing. Hingga akhirnya, pada 1482, Kerajaan Sunda dan Galuh bersatu kembali berkat terjadinya pernikahan Jayadewata dari Galuh dengan Ambetkasih dari dan Galuh kembali bersatu di bawah pimpinan Jayadéwata yang menyandang gelar Sri Baduga Maharaja 1482-1521. Pada masa Sri Baduga Maharaja, Kerajaan Sunda dan Galuh dikenal dengan nama Kerajaan Pajajaran Pakuan Pajajaran.Tahun 1579, Kerajaan Sunda-Galuh atau Pakuan Pajajaran diserang Kesultanan Banten yang membuat imperium di telatah Pasundan ini harus mengakhiri riyawat Sunda-Galuh Prasasti Rakryan Jurupangambat Prasasti Citatih Prasasti Cikapundung Prasasti Pasir Datar Prasasti Huludayeuh Prasasti Kawali Prasasti Kebantenan Prasasti BatutulisBaca juga Sejarah Agresi Militer Belanda II Latar Belakang, Tokoh, Dampaknya Sejarah Perundingan Renville Latar Belakang, Isi, Tokoh, & Dampak Kesultanan Aceh Darussalam Sejarah Kejayaan dan Peninggalan - Sosial Budaya Kontributor Alhidayath ParinduriPenulis Alhidayath ParinduriEditor Iswara N Raditya
Kerajaan Pajajaran â Sejarah dalam berdirinya kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan yang bercorak Hindu. Kerajaan tersebut diperkirakan didirikan pada sekitar tahun 923 oleh Sri Jayabhupati. Di mana letak Kerajaan Pajajaran? Kerajaan ini terletak di wilayah Parahyangan Sunda. Lalu bagaimana dengan cerita sejarah, dari mulai masa kejayaan, masa runtuhnya, cerita kehidupan, silsilah raja beserta peninggalannya? Simak penjelasan berikut ini! Sejarah Kerajaan Pajajaran Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan yang tercatat oleh Tom Peres pada tahun 1513 M dalam The Suma Oriental. Kerajaan ini merupakan kerajaan yang terletak di Parahyangan Sunda dan Pakuan yang menjadi ibu kota Sunda. Sejarah Kerajaan Pajajaran Sesuai yang tulisan yang ada di The Suma Oriental, bahwa ibu kota dari Sunda mempunyai sebutan dengan Dayo atau Dayeuh. Kerajaan Pajajaran merupakan lanjutan dari Kerajaan-kerajaan terdahulu, yang meliputi Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan juga ada Kerajaan Kawali. Pada sekitar tahun 1400-an, kondisi Majapahit semakin lemah dan banyaknya pemberontakan dan juga perebutan kekuasaan antara saudara kerap terjadi. Hingga pada saat Prabu Kertabumi terjatuh Brawijaya V, banyak para pengungsi yang menuju ke ibu kota Kerajaan Galuh yang berada di wilayah Kawali, Kuningan, Jawa Barat. Pengungsi tersebut merupakan kerabat dari Kerajaan Majapahit. Pada saat itu Raden Baribin diterima dengan tangan terbuka oleh Raja Dewa Niskala. Raden Baribin merupakan saudara dari Prabu Kertabumi ia juga telah menikah dengan Ratna Ayu Kirana yang merupakan salah satu putri dari Raja Dewa Niskala. Bulan hanya itu, ternyata Raja juga menikah dengan salah satu rombongan Raden Baribin yang ikut mengungsi. Tetapi dengan adanya pernikahan tersebut Raja Susuktunggal, raja yang berasal dari Kerajaan Sunda tidak terima. Ia menganggap bahwa Dewa Niskala sudah melanggar peraturan, dimana aturan tersebut sudah dibuat sejak peristiwa Bubat. Peraturan tersebut berisikan âJika orang Sunda-Galuh tidak boleh dan dilarang menikah dengan orang yang berasal dari keturunan Majapahitâ. Sehingga peperangan hampir akan terjadi dengan dua raja yang merupakan besan tersebut. Penyebab peperangan tidak terjadi adalah karena dewan penasehat berhasil mendamaikan kedua raja tersebut, yakni dengan keputusan terakhir jika kedua raja harus turun tahta mereka dan mereka berdua harus bersedia menyerahkan tahta mereka pada putera yang sudah dipilih. Pada saat itu Dewa Niskala memilih Jayadewa yang merupakan anaknya, untuk meneruskan kekuasaannya. Sedangkan untuk Prabu Susuktunggal ia juga memilih orang yang sama. Sehingga hasil akhirnya ialah Jayadewa berhasil mempersatukan kedua kerajaan tersebut. Jayadewa mulai memerintah pada sekitar tahun 1482 dengan gelar Sri Baduga Maharaja. Masa Kejayaan Kerajaan Pajajaran Masa Kejayaan Kerajaan Pajajaran mencapai puncak kejayaan pada saat masa kepemimpinan Sri Baduga Maharaja atau Sri Siliwangi. Ia dikenal sebagai seorang raja yang tidak pernah punah dan selalu hidup di hati secara abadi dan pikiran para Masyarakat Jawa Barat. Hal ini dikarenakan Maharaja tersebut membangun sebuah karya besar yang diberi nama Maharena Wijaya. Tidak hanya itu, Maharaja juga membuat jalan yang digunakan untuk menuju ibukota Pakuan dan Wanagiri. Pertahanan ibu kota yang diperkuat serta memberikan desa yang perdikan untuk semua pendeta dan pengikutnya, sehingga hal tersebut dapat menyemangati kegiatan beragama dan menjadi pemimpin kehidupan para rakyat. Sri Baduga Maharaja juga memberikan perintah untuk membangun antara lain adalah sebagai berikut. Kabinihajian atau Kaputren, Kesatriaan atau Asrama Prajurit, menambah kekuatan angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari para raja yang berada di bawahnya dan menyusun undang-undang kerajaan. Dari segi pembangunan bisa dilihat dalam prasasti Kebantenan dan juga Batutulis. Batutulis tersebut mengisahkan juru pantuin Dan penulis Babad yang masih bisa kita lihat sampai sekarang, tetapi ada beberapa atau sebagian lagi sudah hilang. Runtuhnya Kerajaan Pajajaran Runtuhnya Kerajaan Pada tahun 1579 Kerajaan Pajajaran mengalami masa runtuhnya. Kerajaan tersebut hancur diakibatkan oleh penyerangan yang dilakukan oleh Kerajaan Sunda Kesultanan Banten. Kehancuran dari Kerajaan ini ditandai dengan Pindahnya Palangka Sriman Sriwacana atau singgasana raja dari pangkuran Pajajaran ke Keraton Surosowan yang ada di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Batu yang memiliki besar 200 x 160 x 20 cm tersebut dipindahkan ke wilayah Banten, karena pada saat itu tradisi politiklah yang membuat Pakuan Pajajaran tidak bisa menobatkan Raja baru dan menjadi tanda bahwa Maulana Yusuf merupakan penerus dari Kerajaan Sunda yang sah, hal tersebut dikarenakan buyut perempuannya ada Putri Sri Baduga Maharaja. Singgasana Raja atau Palangka Sriman Sriwacana dapat kita lihat di depan bekas dari Keraton Surosowan yang ada di daerah Banten. Masyarakat disana menyebutnya dengan nama Watu Gilang yang memiliki arti Mengkilap. Setelah persekutuan yang terjadi antara Kesultanan Demak dan Cirebon, ajaran agama Islam juga mulai memasuki wilayah Parahyangan dan hal tersebut menimbulkan keresahan dari Jaya Dewata, sehingga ia membatasi pedagang muslim yang ingin masuk ke Pelabuhan kerajaan Sunda. Hal ini dimaksudkan agar pengaruh islam terhadap pribumi dapat diperkecil. Tetapi hal yang terjadi malah sebaliknya, dimana pengaruh dari agama Islam jauh lebih kuat dari yang dibayangkan. Hal ini menyebabkan Pajajaran berkoalisi dengan Portugis agar bisa mengimbangi Kesultanan Demak dan Cirebon. Pajajaran memberikan kebebasan untuk melakukan perdagangan dengan bebas di Pelabuhan Kerajaan Pajajaran, tetapi dengan imbanlan yakni berupa bantuan militer apabila Kesultanan Demak dan Cirebon melakukan penyerangan. Pada tahun 1524 Kekuasaan Pajajaran resmi jatuh ke tangan Kesultanan Banten, dimana pada saat itu Pasukan Demak yang bergabung dengan Cirebon mendarat di Banten sehingga ajaran Islam yang dibawa oleh para pendatang dapat menarik perhatian masyarakat bahkan sampai ke pedalaman Wahanten Girang. Sesudah berhasil dikalahkan oleh Kesultanan Banten, para punggawa Istana menetap di Lebak dan hidup di pedalaman dengan memakai cara kehidupan mandala yang ketat dan kelompok masyarakat tersebut masih ada hingga sekarang, atau yang biasanya kita kenal sebagai Suku Baduy. Kehidupan Kerajaan Pajajaran Kehidupan yang ada pada masyarakat Kerajaan Pajajaran dibagi menjadi 3 aspek yakni, Aspek Politik, Aspek Ekonomi dan Aspek Sosial dan Budaya. Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing aspek yang ada! Kehidupan Politik Kerajaan Pajajaran Kehidupan Politik Sistem pemerintahan yang ada pada kerajaan Pajajaran hanya dapat diketahui oleh beberapa orang raja saja. Berikut ini merupakan bentuk-bentuk sistem pemerintahan dari raja-raja yang memerintah kerajaan Pajajaran! Maharaja Jayabhupati Dalam prasasti ditulis maharaja Jayabhupati menyebut dirinya Haji Ri sunda. Sebutan ini mempunyai tujuan yakni untuk meyakinkan kedudukannya sebagai raja kerajaan Pajajaran. Raja Jayabhupati memeluk agama Hindu beraliran waisnawa. Pusat pemerintahannya diperkirakan berada di wilayah Pakuan Pajajaran yang kemudian dipindahkan ke Kawali. Rahyang Niskala Wastu Kencana. Raja tersebut naik tahta untuk menggantikan raja Maharaja Jayabhupati. Pusat pemerintahannya terletak di wilayah Kawali dan istananya disebut dengan Surawisesa. Rahyang Dewa Niskala Raja Dewa Niskala atau Rahyang Ningrat Kencana adalah raja yang menggantikan Rahyang Niskala Wastu Kencana. Akan tetapi tidak diketahui bagaimana sistem Pemerintahannya. Sri Baduga Maharaja Sri Baduga Maharaja tersebut bertahta di pakuan pajajaran. Pada masa pemerintahannya terjadi pertempuran yang sangat besar, pertempuran tersebut terdapat di dalam kitab Pararaton dan disebut dengan Perang Bubat. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1357 M. Dalam pertempuran itu, semua pasukan pajajaran gugur termasuk dengan raja Sri Baduga sendiri beserta putrinya. Hyang Wuni Sora Raja tersebut berkuasa untuk menggantikan Raja Sri Baduga Maharaja yang telah wafat. Setelah ia berturut-turut digantikan oleh Prabu Niskala Wastu Kencana 1371-1474 M, Tohaan 1475-1482 M yang berkedudukan di Galuh, Ratu Jay Dewata 1482-1521 M. Ratu Samian atau Prabu Surawisesa Pada masa Pemerintahannya, yakni pada tahun 1512 M dan 1521 M, ia berkunjung ke Malaka dengan tujuan untuk meminta bantuan portugis dalam rangka menghadapi kerajaan demak. Tetapi bantuan yang diharapkan itu ternyata sia-sia. Karena pelabuhan terbesar yang ada di kerajaan pajajaran, yaitu Sunda Kelapa sudah dikuasai oleh pasukan kerajaan demak dibawah pimpinan Fatahilah. Sehingga mengakibatkan, hubungan Pajajaran dengan dunia luar terputus. Prabu Ratu Dewata 1535-1543 Raja tersebut memerintah untuk menggantikan Prabu Surawisesa. Pada masa pemerintahannya, juga terjadi berbagai serangan dari kerajaan Banten yang dipimpin oleh Maulana Hasanudin, dibantu oleh anaknya Maulana Yusuf. Berkali-kali pasukan Banten Islam berusaha merebut ibukota Pajajaran tahun 1579 M. Peristiwa ini mengakibatkan runtuhnya kerajaan hindu Pajajaran di Jawa Barat. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Pajajaran Kehidupan Ekonomi Masyarakat yang berada di Kerajaan Pajajaran bertahan hidup dengan bercocok tanam, ladang yang menghasilkan beras, buah-buahan, sayuran, lada dan juga pelayaran dan perdagangan. Dimana Kerajaan tersebut mempunyai 6 pelabuhan penting yang terdiri antara lain, Sunda Kelapa yang berada di Jakarta, Pontang, Tamgara, Pelabuhan Banten, Cigede, dan ada juga Cimanuk yang berada di Pamanukan. Melalui peradangan laut, masyarakat dapat melakukan perdagangan dengan daerah atau negara lain. Untuk wilayah peradangan sendiri bisa mencapai pulau Sumatera dan bisa juga sampai dengan pulau Maladewa. Barang yang biasanya dijual belikan ialah barang yang berupa bahan makanan dan juga lada, tetapi yang lebih penting adalah beras. Untuk perdagangan yang ada di jalur darat juga memiliki peran yang penting, dimana jalan darat untuk perdagangan itu berpusat di Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan. Sedangkan jalan yang lainnya yakni menuju Timur dan gang lain menuju ke Barat. Jalan yang menuju ke Timur dapat menghubungkan Pakuan Pajajaran dengan Karang Sambung yang terletak di wilayah tepi Sungai Cimanuk, melalui Cileungsi dan Cibarusa kemudian membelok ke Karawang. Kemudian dari Tanjung Puraini di teruskan ke Cikal dan Purwakarta yang kemudian berakhir di Karang Sambung. Sedangkan Jalan lain yang menuju ke arah Barat, dimulai dari Pakuan Pajajaran melalui Jasinga dan juga Rangkasbitung, menuju Serang yang kemudian berakhir di Banten. Untuk jalan darat lain yang dimulai dari Pakuan Pajajaran menuju Ciampea mulai dari Muara Cianten. Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Pajajaran Kehidupan Sosial Budaya Kehidupan Sosial yang ada di masyarakat Pajajaran yakni berupa seniman, baik itu penari, pemain gamelan atau badut dan juga dari golongan petani dan peradangan. Sedangkan golongan jahat yang dianggap oleh masyarakat yakni berupa, tukang copet, pencuri, maling atau perampas. Sementara untuk Budaya yang ada di kerjaan ini dipengaruhi oleh agama Hindhu. Pengaruh dari agama tersebut dapat dilihat dari peninggalan yang ditinggalkan diantaranya adalah Prasasti, Batuk, kitab cerita dari Parahyangan dan juga terdapat Kitab Sanvyang Siskanda. Silsilah Kerajaan Pajajaran Siapa raja kerajaan pajajaran? Selain pendiri dari Kerajaan Pajajaran yakni Sri Jayabhupati, berikut ini merupakan beberapa raja-raja yang pernah tercatat menjadi pemimpin dari kerajaan. Berikut ini Silsilah Kerajaan Pajajaran ! Sri Baduga Maharaja 1482 â 1521, merupakan raja yang bertahta di Pakuan Bogor sekarang Surawisesa 1521 â 1535, merupakan raja yang bertahta di Pakuan Ratu Dewata 1535 â 1543, merupakan raja yang bertahta di Pakuan Ratu Sakti 1543 â 1551, merupakan raja yang bertahta di Pakuan Ratu Nilakendra 1551-1567, meninggalkan Pakuan karena mendapatkan serangan dari Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf. Raga Mulya 1567 â 1579, raja yang dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang. Peninggalan Kerajaan Pajajaran Kerajaan Pajajaran meninggalkan beberapa peninggalan-peninggalan yang bersejarah dan masih bisa kita lihat sampai sekarang. Peninggalan-peninggalan tersebut antara lain. Contoh Peninggalan Prasasti Prasasti Cikapundung Prasasti ini ditemukan pada tanggal 8 Oktober 2010 oleh masyarakat sekitar. Prasasti tersebut ditemukan di sekitar Sungai Cikapundung, Bandung. Dalam Prasasti tersebut ditemukannya sebuah tulisan Sunda kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-14, bukan hanya itu terdapat juga beberapa gambar. Seperti telapak tangan, wajah, telapak kaki dan 2 baris huruf Sunda Kuno dengan tulisan âUnggal Jagat Jalmah Hendakâ yang memiliki arti âSemua manusia di dunia bisa mengalami sesuatu apapunâ. Prasasti Huludayeuh Prasasti ini baru diketahui pada bulan September tahun 1991. Prasasti tersebut berada di tengah sawah Kampung Huludayeuh, desa Cikalahang, Kecamatan Sumber. Isi dari prasasti tersebut adalah sebelas baris tulisan dengan berbentuk aksara dan juga bahasa Sunda Kuno. Permukaan dari batu prasasti sudah rusak, karena pada saat penemuan prasasti dalam keadaan yang tidak utuh dan beberapa tulisan yang sudah hilang, sehingga isi dari prasasti tidak dapat terbaca. Tetapi secara garis besar, prasasti tersebut menceritakan tentang Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Dua Sang Ratu Dewata yang masih berhubungan dengan beberapa usaha utnuk memakmurkan negerinya Prasasti Pasir Datar Prasasti ini ditemukan pada tahun 1872 tepatnya terletak di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi yang sekarang sudah disimpan pada Museum Nasional Jakarta. Prasasti tersebut terbuat dari material batu alam dan isi dari prasasti masih belum bisa diartikan. Prasasti Perjanjian Sunda Portugis. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1918 tepatnya di Jakarta. Prasasti yang berbentuk tugu batu tersebut merupakan tanda perjanjian dari Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Portugis. Prasasti ini ditemukan dengan cara penggalian saat membangun sebuah gudang yang ada di bagian sudut Prinsenstraat yang sekarang menjadi jalan cengkeh dan juga Groenestraat yang sekarang menjadi jalan Kali Besar Timur I dan masuk kedalam wilayah Jakarta Barat. Prasasti Ulubelu Prasasti ini ditemukan pada tahun 1936 tepatnya terletak di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kota agung, Lampung. Isi dari Prasasti ini adalah mantra tentang sebuah permohonan dan juga pertolongan yang akan ditujukan pada para Dewa utama yakni Batara Guru, Wisnu dan juga Brahmana serta Dewa sang penguasa tanah, air dan juga pohon untuk keselamatan dari segala musuh. Situs Karangkamulyan Peninggalan ini berada di Desa Karangkamulyan, Ciamis, Jawa Barat yang juga merupakan peninggalan dari Kerajaan Galuh Hindu-Buddha. Situs tersebut menceritakan tentang Ciung Wanara yang berkaitan dengan Kerajaan Galuh. Cerita tersebut ke tak dengan kisah dari pahlawan hebat yang mempunyai kesaktian dan juga keperkaasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa, dan hanya dimiliki oleh Ciung Wanara. Prasasti Kebon Kopi II Prasasti tersebut memiliki nama lain yakni Prasasti Pasir Muara yang merupakan peninggalan dari kerajaan Sunda Galuh, dan ditemukan pada sekitar Prasasti Kebon Kopi I. Prasasti ini ditemukan di Kampung Pasir Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bigor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada sekitar abad ke -19. Penutup Demikian penjelasan tentang Kerajaan Pajajaran, pembahasan yang dimulai dari sejarah, masa kejayaan dan masa runtuhnya kerajaan, cerita tentang kehidupan masyarakat yang ada pada saat itu, silsilah raja dan juga peninggalan dari kerajaan Pajajaran. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa menambahkan wawasan buat kalian semua terutama pada bidang sejarah, karena sejarah bukan untuk dilupakan, tapi sejarah untuk dijaga dan dirawat! Kerajaan PajajaranSumber Artikel
Ilustrasi Kerajaan Demak. Sumber Charl Durand/ Demak berlokasi di pesisir Pantai Utara, lebih tepatnya berada di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kehidupan politik Kerajaan Demak tidak bisa terlepas dari peran Wali Demak mengalami perkembangan yang sangat pesat ketika dipimpin oleh Sultan Trenggono. Sayangnya, kerajaan ini tidak berkuasa cukup lama sebab mengalami keruntuhan akibat perang saudara. Agar semakin jelas, simak ulasan di bawah ini!Kehidupan Politik Kerajaan DemakIlustrasi Kerajaan Demak. Sumber Serg Alesenko/ Komang Ayu Astiti dalam buku Pusat Kerajaan Kutai Kartanegara Abad XIII â XVII dalam Pembangunan Pariwisata Daerah menjelaskan bahwa Kerajaan Demak adalah salah satu kerajaan Islam di abad berdiri menjadi kerajaan, awalnya Demak adalah Kadipaten Glagahwangi dan berada di bawah kekuasaan Majapahit. Kemudian, pada tahun 1478 bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit, Kadipaten Glagahwangi berusaha memisahkan itu, Raden Patah, putra Prabu Brawijaya V, mendirikan kerajaan baru dan dikenal sebagai Kerajaan Demak. Dalam kondisi demikian, bisa dikatakan bahwa Kerajaan Demak berdiri pada tahun 1481 dengan memanfaatkan kondisi Kerajaan Majapahit yang berdirinya Kerajaan Demak erat kaitannya dengan Wali Songo. Sebab, tidak lama setelah berdiri Kerajaan Demak, dibangunlah Masjid Agung Demak atas bantuan Wali hanya itu, Wali Songo juga menjadi penasihat Kerajaan Demak. Misalnya, Sunan Kudus yang berperan sebagai penasihat kerajaan sekaligus sebagai hakim Kalijaga juga mempunyai peran memberikan corak kepemimpinan dan mengatur dalam hidup bernegara. Atas dukungan inilah, Kerajaan Demak berpengaruh sangat kuat di tengah masyarakat Kerajaan Demak tidak hanya sebagai bukti revolusi sistem kepemimpinan di tanah Jawa, tetapi juga kelanjutan pola kepemimpinan secara masa Kerajaan Demak, jiwa bebas, musyawarah, dan kebersamaan adalah ciri kepemimpinan Islam yang dianut. Selama berdiri, kerajaan ini menjalankan diplomasi perkawinan dalam menyelesaikan pergolakan politik dan juga untuk meluaskan Kerajaan DemakKeruntuhan Kerajaan Demak bermula ketika Sultan Trenggono wafat pada tahun 1546. Setelah kematiannya, terjadi perebutan kekuasaan dan terjadilah perang Sekar Sedolepen seharusnya menjadi pewaris takhta, namun dibunuh oleh Sunan Prawoto. Selanjutnya, Arya Penangsang, putra Pangeran Sekar Sedolepen, balas dendam dan berhasil membunuh Sunan Prawoto dan para Arya Penangsang dikalahkan oleh Jaka Tingkir yang merupakan Adipati Pajang serta menantu dari Sultan Trenggono. Pada masa inilah, Kerajaan Demak mengalami keruntuhan dan mulailah pemerintahan di bawah kekuasaan Kerajaan penjelasan tentang kehidupan politik Kerajaan Demak serta keruntuhannya yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat! ek
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Nina Herlina Lubis saat menjadi pembicara dalam diskusi virtual âSatu Jam Berbincang Ilmu Kerajaan Sunda dalam Konstelasi Politik, Dulu dan Kiniâ, Sabtu 13/3. [ Jawa Barat setidaknya memiliki dua kerajaan besar yang pernah berdiri setelah zaman Tarumanagara, yaitu Galuh dan Sunda. Dua kerajaan ini memiliki akar kuat sebagai identitas sejarah dan budaya dari masyarakat Sunda. Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Nina Herlina Lubis menjelaskan, berbicara mengenai kerajaan Sunda, maka tidak bisa dipisahkan dari nama kerajaan Galuh. Sebab, antara kerajaan Sunda dan Galuh pernah bersatu dengan nama kerajaan Sunda dan pusat kekuasaannya berada di wilayah Galuh. Saat menjadi pembicara dalam diskusi virtual âSatu Jam Berbincang Ilmu Kerajaan Sunda dalam Konstelasi Politik, Dulu dan Kiniâ, Sabtu 13/3, Prof. Nina menjelaskan, penyatuan kerajaan Sunda dan Galuh terjadi pada masa Sanjaya, raja Sunda setelah Maharaja Trarusbawa. âDalam sumber primer Prasasti Canggal disebutkan, Sanjaya merebut takhta kerajaan Galuh dari Rahyang Purbasora sekitar sebelum tahun 732 Masehi,â ungkapnya. Berbeda dengan Kerajaan di Jawa Tengah dan Timur Sejarawan Unpad ini menjelaskan, berdasarkan tinggalan sejarah, ibu kota atau pusat kekuasaan kerajaan Galuh berpindah-pindah. Bermula di daerah di dekat Banjar saat ini, lalu berpindah wilayah yang saat ini menjadi perbatasan Ciamis-Banjar, serta kembali pindah ke daerah Kawali. âDi Kawali itulah kita menemukan sumber yang bisa dipercaya tentang Galuh, yaitu 6 prasasti yang menyebutkan berbagai peristiwa tentang kerajaan Galuh,â papar Prof. Nina. Memiliki ibukota kerajaan yang berpindah menyebabkan adanya perbedaan karakteristik kerajaan Sunda dengan kerajaan di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Kerajaan Sunda cenderung memiliki tinggalan sejarah berupa bangunan candi yang lebih sedikit dibanding di wilayah tengah dan timur. Ini disebabkan, masyarakat Sunda pada saat ini bukan sebagai masyarakat menetap. Hal ini menyebabkan mengapa ibu kota kerajaan Galuh dan Sunda berpindah-pindah. âKarena berpindah-pindah jadi tidak punya waktu membangun candi besar. Di Jateng dan Jatim masyarakatnya petani sawah, sehingga cukup punya waktu membangun bangunan monumental,â tuturnya. Pajajaran Bukan Nama Kerajaan Kerajaan Sunda yang paling dikenal masyarakat Sunda adalah Pajajaran. Namun, Pajajaran bukanlah nama sebuah kerajaan. Sebab, nama kerajaan yang sebenarnya adalah kerajaan Sunda. Prof. Nina menjelaskan, Pajajaran adalah ibu kota atau pusat kekuasaan kerajaan Sunda selama masa Sri Baduga Maharaja, atau Prabu Siliwangi, yaitu Pakwan Pajajaran. Pakwan Pajajaran terletak di wilayah Kota Bogor, saat ini. âAda teori yang dikemukakan Robert von Heine-Geldern, kerajaan di Asia Tenggara umumnya disebut dengan nama ibu kotanya,â kata Prof. Nina. Dalam kepercayaan mereka, ibu kota kerajaan diyakini sebagai pusat mikrokosmos. Cukup dengan menyebut nama mikrokosmos, berarti sudah menyebut seluruh wilayah kerajaan. âItu sebabnya yang beken sekarang itu Pajajaran, padahal yang betul kerajaan Sunda. Itulah kita harus berpegang pada sumber primer,â ujar Prof. Nina. Toleransi Sumber primer diyakini para ahli sebagai bukti otentik yang bisa menjadi referensi suatu sejarah. Hal ini juga bisa menjadi rujukan dari beragam perdebatan yang muncul dari proses interpretasi sejarah. Kerajaan Sunda sendiri tidak lepas dari adanya perdebatan. Salah satunya mengenai kepercayaan Prabu Siliwangi. Prof. Nina menjelaskan, kepercayaan Sri Baduga Maharaja termaktub dalam Prasasti Batu Tulis yang didirikan Prabu Surawisesa, 12 tahun setelah kematian Sri Baduga Maharaja. Dalam prasasti itu, jelas disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja, ayah dari Prabu Surawisesa, meninggal pada 1521. Jenazahnya kemudian diperabukan. âKenapa diperabukan, karena dia beragama Hindu,â ujar Prof. Nina. Berbekal informasi dari sumber primer, jelas disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja meninggal dalam keadaan beragama Hindu. meskipun ada bukti sekunder yang menerangkan bahwa Prabu Siliwangi beragama Islam. Menjelang akhir usianya, mulai banyak pendatang yang menetap di Tatar Sunda. Para pendatang tidak hanya beragama Hindu, tetapi ada pula yang beragama Buddha dan Islam. Prof. Nina memaparkan, beragamnya kebudayaan dan agama di tatar Sunda membuktikan bahwa kerajaan Sunda memiliki toleransi yang tinggi. Bahkan, penyebaran Islam di tatar Sunda sudah berlangsung sejak abad ke-14.*
Halo, Quiperrian! Pernah dengar kisah tentang Kerajaan Sunda? Kerajaan ini adalah salah satu kerajaan di nusantara yang punya jejak perjuangan yang sangat panjang. Bahkan, para rajanya tersebar dari berbagai macam kerajaan lain, lho. Hmm, penasaran banget kan, gimana kisah serunya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini ya, Quipperian! Sejarah Kerajaan Sunda Wilayah Kerajaan Bersatu Sunda dan Galuh. Sumber Merupakan kerajaan bercorak Hindu dan Budha yang pernah berdiri pada tahun 932-1579 Masehi. Letak geografis kerajaan berada di Barat pulau Jawa. Namun, menurut naskah Wangsakerta, kerajaan ini berdiri untuk menggantikan kerajaan Tarumanegara. Menurut sejarah yang beredar, Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan bagian barat Jawa Tengah merupakan daerah Kerajaam Sunda di masa lampau. Sementara menurut Naskah Kuno Primer Bujangga Manik, batas kerajaan Sunda ini berada di sebelah timur Provinsi Jawa Tengah yaitu Ci Pamali Sungai Pamali atau yang dikenal sekarang Kali Brebes dan Ci Serayu Kali Serayu. Pendiri dan Raja Kerajaan Sunda Candi Hindu Cangkuang, tempat pemujaan Siwa, dari abad ke-8 Kerajaan Galuh. Sumber Menurut Naskah Wangsakerta, sebelum berdiri menjadi kerajaan mandiri, Kerajaan Sunda berdiri menggantikan Tarumanagara. Raja Tarumanagara sendiri yang terakhir bernama Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi. Ia memerintah selama 3 tahun yaitu tahun 666-669 M. Ia menikah dengan Dewi Ganggasari yang berasal dari Indraprahasta. Pernikahannya dikaruniai dua anak perempuan yang bernama Dewi Manasih dan Sobakancana. Dewi Manasih menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sementara Sobakanca menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayas, pendiri kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman ini wafat, kekuasaan kerajaan turun kepada menantunya, Tarusbawa. Quipperrian, hal ini membuat penguasa Galuh yang bernama Wretikandayun memberontak dan akhirnya melepas diri dari Tarumanagara. Tarusbawa kemudian memindahkan kekuasaan ke Sunda, di hulu Sungai Pakancilan yang saat ini dekat dengan Bogor. Sedangkan Tarumanagara berubah tahtanya menjadi di bawah kekuasaan kerajaan Sunda. Beliau dinobatkan menjadi raja Sunda pada tahun 669 M. Setelah beliau wafat, Sanjaya berhasil menggabungkan Kerajaan Sunda dengan Galuh. Sanjaya sendiri merupakan cicit dari pendiri Kerajaan Galuh dan cucu dari Ratu Shima yang merupakan pemimpin Kerajaan Kalingga. Ia kemudian memimpin Kalingga dan mendirikan Kerajaan Mataram Kuno sekaligus Wangsa Sanjaya. Karena harus bertakhta di Kalingga, Sanjaya memberi kekuasaan Sunda pada puteranya yang bernama Rakeyan Panaraban. Namun, Sunda Galuh justru terpecah kembali. Hingga Panaraban akhirnya membagi kekuasaan pada kedua puteranya. Sang Manarah memegang Galuh dan Sang Bangga memegang Sunda. Berabad-abad lamanya, kedua kerajaan menjalani kehidupannya masing-masing. Hingga akhirnya kedua kerajaan bersatu kembali, berkat pernikahan Jayadewata yang mendapat gelar Sri Baduga Maharaja dari Galuh dengan Ambetkasih dari Sunda. Di bawah kepemimpinan Jayadewata, Kerajaan Sunda dan Galuh dikenal dengan Kerajaan Pajajaran Pakuan Pajajaran. Namun, sayangnya di tahun 1579, Kerajaan Pakuan Pajajaran harus mengalami masa keruntuhan. Kerajaan ini diserang oleh Kesultanan Banten yang membuat kerajaan ini harus mengakhiri riwayat panjang perjuangannya. Peninggalan dan Prasasti Kerajaan Sunda Babad Pajajaran. Sumber Kerajaan Sunda memiliki sejumlah prasasti dan situs yang ditemukan baik dalam keadaan masih maupun rusak. Bukti-bukti inilah yang menjadi dasar jejak kerajaan mulai dari wilayah kerajaan, ibu kota, hingga raja-rajanya. Berikut adalah jejak peninggalan Kerajaan Sunda di masa lalu, yaitu Babad Pajajaran Carita Waruga Guru Carita Parahiangan Kitab cerita Kidung Sundayana Berita asing dari Tome Pires tahun 1513 Berita asing dari Pigafetta tahun 1522 Prasasti Sanghyang Tapak di Sukabumi Prasasti Batu Tulis di Bogor Prasasti Horren Prasasti Rakyan Juru Pangambat Prasasti Kawali di Ciamis Prasasti Astanagede Tugu Perjanjian Portugis padrao Taman perburuan atau Kebun Raya Bogor. Silsilah Raja-Raja Kerajaan Sunda Karena kerajaan ini merupakan gabungan dari banyaknya kerajaan, raja-rajanya pun tersebar di berbagai wilayah. Berikut adalah rangkuman silsilah para raja Kerajaan Sunda 1 Salakanagara 2 Tarumanagara Berikut adalah beberapa rajanya Jayasingawarman 358 â 382 merupakan pendiri Tarumanagara dan merupakan menantu Dewawarman VIII. Di masa takhtanya, pusat pemerintah beralih dari Rajaputra ke Tarumanagara, Salakanagara kemudian diubah menjadi kerajaan daerah. Dharmayawarman 382 â 395 M. Purnawarman 395 â 434 M ia membangun kerajaan baru di dekat pantai bernama Sundapura. Di bawah kekuasaannya ada 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara sampai ke Purwalingga. Wisnuwarman 434-455. Indrawarman 455-515. Candramawarman 515-535 M. Suryawarman 535 â 561 M ia melanjutkan kebijakan politik ayahnya yaitu Candrawarman dengan memberi kepercayaan pada banyak raja daerah untuk mengurus pemerintahannya sendiri. Ia juga mengalihkan perhatiannya pada bagian Timur kerajaan. Kertamawarman 561 â 628. Sudhawarman 628-639. Hariwangsawarman 639-640. Nagajayawarman 640-666. Linggawarman 666-669. Tarusbawa 670 â 723 menantu Linggawarman dan berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa. Sanjaya 723 â 732 menantu dari tarusbawa dan cicit dari Wretikandayun. Tamperan Barmawijaya 732 â 739. Rakeyan Banga 739 â 766. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang 766 â 783. Prabu Gilingwesi 783-795 menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang. Pucukbumi Darmeswara 795-819 menantu Prabu Giling Wesi. Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus 819-891. Prabu Darmaraksa 891 â 895 adik ipar Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus. Windu Sakti Prabu Dewageng 895 â 913. Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucuk Wesi 913-916. Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa 916-942 menantu Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa 942-954. Limbur Kancana 954-964. Prabu Munding Ganawirya 964-973. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung 973 â 989. Prabu Braja Wisesa 989-1012. Prabu Dewa Sanghyang 1012-1019. Prabu Sanghyang Ageng 1019 â 1030, berkedudukan di Galuh. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati 1030â â 1042. Darmaraja atau Sang MoktĂ©ng Winduraja 1042 â 1065. Langlangbumi atau Sang MoktĂ©ng Kerta 1065 â 1155. Rakeyan Jayagiri Prabu MĂ©nakluhur 1155 â 1157. Darmakusuma atau Sang MoktĂ©ng Winduraja 1157 â 1175. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu 1175 â 1297. Ragasuci atau Sang MoktĂ©ng Taman 1297 â 1303. Citraganda atau Sang MoktĂ©ng Tanjung 1303 â 1311. Prabu LinggadĂ©wata 1311-1333. Prabu Ajiguna LinggawisĂ©sa 1333-1340. Prabu Ragamulya Luhurprabawa 1340-1350. Prabu Maharaja LinggabuanawisĂ©sa 1350-1357 gugur dalam Perang Bubat. Prabu Bunisora 1357-1371. Prabu Niskala Wastukancana 1371-1475. Prabu Susuk Tunggal 1475-1482. JayadĂ©wata atau Sri Baduga Maharaja 1482-1521. Prabu SurawisĂ©sa 1521-1535. Prabu DĂ©watabuanawisĂ©sa 1535-1543. Prabu Sakti 1543-1551. Prabu NilakĂ©ndra 1551-1567. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana 1567-1579. Masa Kejayaan Lukisan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Sumber Berdasarkan sumber naskah Carita Parahyangan, tidak semua raja yang memimpin itu membawa kejayaan, Quipperian. Setidaknya, tercatat ada 4 raja yang membawa Kerajaan Sunda pada masa keemasan. Keempat raja itu, ialah 1. Sang Lumahing Kreta Raja yang satu ini memimpin selama 92 tahun lamanya. Keberhasilannya dimungkinkan karena Lumahing dianggap senantiasa memegang teguh pada perbuatan utama. Ia sangatlah tegas dalam menjalankan roda pemerintahan sehingga sesuai dengan aturan dan hukum kerajaan yang berlaku. 2. Rakeyan Darmasiksa Rakeyan memerintah kerajaan selama 150 tahun. Keberhasilannya membawa kerajaan pada puncak kejayaan disebabkan karena mengamalkan Sanghyang Siksa dan berpegang teguh pada Sanghiyang Darma. Inilah yang menyebabkan terpenuhinya kebutuhan seperti sandang pangan yang disimbolkan dengan Sang Rama, agama, kesehatan yang disimbolkan Sang Disri, tradisi leluhur yang disimbolkan Sang Resi, dan perdagangan atau pelayaran yang disimbolkan Sang Tarahan. 3. Prabu Niskala Wastu Kancana Memerintah kerajaan selama 104 tahun, Prabu Niskala juga berhasil membawa kerajaan pada masa kejayaan. Ia berhasil memenuhi dan mengendalikan empat aspek kehidupan yaitu sandang pangan, agama dan tradisi leluhur, perdagangan, dan kesehatan. Melalui prasasti Kawali Ciamis juga, ia memperindah Keraton Surawisesa dan membangun parit di sekeliling kota. 4. Sri Baduga Ia berhasil memerintah kerajaan selama 39 tahun yang pusatnya saat itu berada di Pakuan Pajajaran. Ia berhasil membawa kerajaan ke puncak kejayaan karena setia kepada keaslian dan kebiasaan leluhur. Tidak hanya itu, ia juga membebaskan beberapa desa dari tuntutan membayar pajak bagi kepentingan keagamaan. Langkahnya ini mencerminkan perhatiannya pada keagamaan dan tradisi leluhur. Pada masanya, hak itu menjadi perhatian utama dalam menentukan kebijakan pemerintahan. Prasasti Batutulis bahkan mengungkapkan upaya Sri Baduga untuk melaksanakan pembangunan ibu kota, dari jejak-jejaknya yang bisa dilacak hingga saat ini. Sri Baduga membuat hutan-hutan lindung, mengeraskan jalanan dengan batuan, mendirikan gunung-gunungan, membuat telaga yang diberi nama Telaga Rena Mahawijaya, dan membuat parit di sekitar Pajuan Pajajaran. Kehidupan Politik dan Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sunda Menurut Tome Pires, kerajaan Sunda ini memiliki sistem pemerintahan kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Takhta kerajaan diberikan secara turun temurun kepada para keturunannya. Namun, jika si raja tidak memiliki keturunan atau anak, maka yang akan menggantikannya adalah salah seorang raja yang dipilih berdasarkan hasil pemilihan. Untuk kehidupan ekonomi kerajaan ini, para pedagangnya sudah bisa melakukan transaksi perdagangan dengan pedagang asing dari kerajaan lainnya seperti Sumatra, Jawa Tengah, Makassar, dan Malaka. Kegiatan perdagangan tersebut didukung dengan adanya pelabuhan-pelabuhan milik Kerajaan Sunda. Komoditas yang diperdagangkan yaitu lada, hewan ternak, sayuran, buah-buahan, dan beras. Selain dari sektor perdagangan, mereka juga mengembangkan sektor perdagangan seperti berladang. Watak masyarakat Sunda yang senang berpindah ini terlihat dari kegiatan berladangnya. Untuk itulah, mengapa ibu kota kerajaan juga sering berpindah-pindah. Susunan masyarakat berdasarkan Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian, kelompok ekonomi mereka terbagi menjadi Pahuma petani ladang Penggembala Pemungut Pajak Mantri Pandai besi Bhayangkara dan prajurit Kelompok cendekiawan dan rohani Maling, begal, dan copet Quiperrian, itulah tadi pembahasan sejarah tentang kerajaan Sunda tentang peninggalan, letak geografis, prasasti, pendiri, raja, masa kejayaan, silsilah kerajaan, sistem pemerintahan, kehidupan politik, kehidupan ekonomi, dan masa keruntuhan. Belajar sejarah itu sebenarnya asyik kok, asalkan penyampaian materinya juga menyenangkan. Nah, kamu bisa belajar bareng Quipper Video, nih. Belajar sejarah bakalan bikin kamu enjoy dan having fun banget deh. Makanya, biar enggak penasaran, buruan subscribe ya! [spoiler title=SUMBER]
kehidupan politik kerajaan sunda